Dakwah merupakan nafas kehidupan sehari-hari Ustaz Abdul Karim dari Masjid hingga emperan warung kopi
Ustaz Abdul Karim adalah keturunan asli Madura lahir di Jember Jawa Timur, 5 Mei 1973. Kedatangannya ke Batam bukan suatu kesengajaan pada tahun 2005. Sebelumnya berkelana melalui Dumai, Kuala Tungkal, Tembilahan dan Tanjung Pinang pada tahun 2004 silam hingga akhirnya berlabuh di Batam. Tujuan awalnya hanya untuk mencari biaya operasi bibir sumbing anak keduanya Huiryatul Muharroro sebesar lima juta rupiah. Namun takdir berkata lain, Abdul Karim ternyata tertarik bermukim di kota Bandar Dunia Madani ini. Jelang beberapa bulan kemudian, istri dan anak-anaknyapun menyusul.
Kisah Abdul Karim atau biasa di sapa Laura A. Abdul Karim ini, adalah ustaz nyentrik yang pernah diasuh lagsung KH. Hasan Basyri ini membuat banyak orang terkagum-kagum baik secara visi dakwah maupun prinsip hidupnya. Kami penasaran setelah berjumpa salah satu muridnya bernama Zulkarnain beralamat di Perumahan Bumi Kencana Batu Aji. Melalui Zulkarnain kamipun dipertemukan sang ustaz Abdulkarim di salah satu emperan warung di Batu Aji pada Senin, 11 April 2015 lalu.
Tatapannya yang tajam sembari tersenyum menyabut kedatangan kami, ustaz Lora biasa sapaan Abdul Karim ini
berkenan bercerita tentang kisah perjalan dakwahnya selama di Batam.
Caranya berdakwah sedikit berbeda dari kebanyak ustaz, tidak sungkan sedikitpun bergaul bahkan berbaur bersama orang-orang yang ditemuinya di warung kopi, bahkan sang ustaz kerap nongkrong di tempat-tempat lokasi perjudian dan lokalisasi yang ada di wilayah Nagoya. Demikian juga tempat massage yang nota bene kerap menjadi tempat prostitusipun ditongronginnya.
Untuk mendapatkan dana agar bisa mengobati sang anak dan kebutuhan keluarga, Abdul Karim mengandalkan kemampuannya dengan pengobatan cara bekam dan terapi melalui doa-doa. Tidak kurang tiga ribu kepala sudah digunduli melalui pengobatan bekam saat itu. Adapun dakwah yang dilakukan adalah semata-mata karena panggilan iman. Ketika ditanya tentang pekerjaan, ayah tiga anak ini mengungkapkan dengan lantang jika perkerjaan yang utama itu adalah mengurusi agama. "Rezeki itu sudah di atur Allah", ungkap sembari menunggak segelas kopi panas
Ustaz Karim yang pernah mondok di Pesantren Irsyadun Nasyi'in Jember pada tahun 1989 hingga 1997 ini sehari-hari aktivitasnya berdakwah melalui silaturahim, tak heran siang dan malam meninggalkan rumah hanya untuk berkeling daru satu perumahan hingga perumahan lain, dari satu kedai kopi hingga kedai kopi lainnya. Meski demikian, bukan berarti ustaz ini tidak mengisi kajian di Masjid, bahkan jamaah taklim sudah pemiliar dengannya.
Selain aktif berdakwah secara langsung, ustaz Karim juga membentuk pesantren keluarga yang dinamakannya "KIMAWAR" singkatan dari Keluarga Idaman Mawaddah wa Rahmah. Kini murid-murinya sudah berjumlah 20 keluarga (terdiri dari suami, istri dan anak). Bentuk pembinaannya dengan pengajian dan zikir bersama saat malam hari. "pengajian zikir kami adakan rutin dua kali seminggu bertempat di masjid atau rumah jamaah secara bergantian". terang ustaz Karim
Menurutnya, metode dakwa dengan pembinaan langsung seperti ini lebih efektif daripada berceramah dari mimbar ke mimbar, bukan berarti ceramah dipengajian sudah tidak dilakukannya, dengan zikir bersama lebih mempererat kebersamaan dan persaudaraan, dimana terjalinnya jamaah yang kuat karena ada hubungan yang jelas antara imam dan jamaah, antara pemimpin dan yang dipimpin, antara guru dan murid. Dengan begitu, jamaah akan lebih mudah menerima nasehat dan ilmu pengetahuan yang diberikan.
Bahkan menurutnya, pendidikan pesantren tempo dulu itu lebih pas dalam mendidik muridnya dengan ketegasan. Berbeda dengan saat ini, guru terkadang disalahkan dan dipidanakan dengan kekerasan jika memberikan hukuman kepada murinya. Baginya, mendidik itu harus keras dan tegas agar yang diajarkan benar-benar mampu diamalkan dengan benar.
Zulkarnain mengungkapkan yang senada, jika ustaz Karim guru yang tegas dan penyayang kepada muridnya, selain mengontrol langsung ibadah para muridnya, juga membantu menyelesaikan masalah-masalah keluarga para santrinya termasuk membantu mencarikan pekerjaan jika ada santrinya yang sedang tidak mmemiliki pekerjaan meski sang ustaz sendiri tidak sedang memiliki pekerjaan tetap. "Ustaz Karim sangat peduli dan perhatian sama kita murid-murinya", ungkap Zulkarnain yang sudah dua tahun ini belajar bersama ustaz Karim
Untuk membuktikan apa yang diceritakan Zulkarnain, kami mencoba mengikuti pengajian rutin malam itu bertempat di Masjid Al-Kausar Pemda Dua Batuaji. Sebelum memulai dzikir bersama, ustaz karim terlebih dulu memberikan tausiah tentang pentingnya tauhid kepada Allah. Selepas memberikan tausiah, sang ustaz juga mengepaluasi kembali bacaan Quran para muridnya yang kebanyakan berkeluarga tersebut. Begitu juga dengan sholat lima waktu, amalan sunnah lainnya seperti dzikir dan sholat lalil. Acara kemudian dilanjutkan dengan membaca sholawat kepada Rosul secara bersamaan. Dipenghujung pengajian, ustaz Karim memberikan support kepada jamaah agar tetap semangat dalam mencari nafkah untuk anak dan istri. "Tidak ada yang lesu dan bermalas-malasan bekerja besok pagi meski malam ini kita habiskan dengan mengingat Allah", seru ustaz Karim kepada jamaahnya
Menurutnya, dengan terbangunnya ikatan emosional melalui jamaah seperti itu maka mudah mengontrol para santri sejauh mana ibadahnya. Jika sekedar ceramah umum dimimbar tentu tidak bisa menegur langsung jamaah dan mengontrol sejauh mana penerapannya.
Dakwah yang dilakukan selalu mengarah kepada kecintaan Allah dan Rasulullah serta meninggalkan kecintaan yang berlebihan kepada dunia. Ketika kami tanyakan tentang perinsip hidup, ustaz Karim mengatakan "Sholat hiburanku, masjid itu rumahku, rumahku itu surgaku, istriku itu bidadariku, anak harga diriku, tetangga itu kehormatanku". itulah sederetan kalimat yang menjadi pegangan dalam hidupnya sehingga tidak pernah merasa takut dengan apapun pandangan orang terhadap dirinya dan keluarganya.
Demikian juga dengan kebutuhan hidup, meskipun tidak memiliki pekerjaan tetap seperti orang pada umumnya bekerja di perusahaan. Ustaz Karim mengaku belum pernah merasakan kesulitan meski hidup dengan kesederhanaan. Pantang baginya meminta apalagi ketika memberikan ceramah. "ustaz itu bukan pekerjaan dibayar tapi tugas mulia kalau diberi ya diterima tapi bukan meminta bayaran", ungkapnya dengan tegas
Seperti cerita murid-murinya yang lain, ustaz Karim yang bermukim di Jl. Bunguran Timur pemda II 409 dekat kantor Lurah Buliang, juga mengungkapakan jika dirinya sering mendatangi tempat hiburan di Nagoya, termasuk tempat-tempat massage. Kehadirannya ditempat yang rasanya seorang ustaz kurang pantas namun baginya adalah sebuah kesengajaan dengan tujuan dakwah. "semua manusia dan syaiton yang ada disana saya kenal", ungkapnya sambil tersenyum. Lanjutnya, saking kenalnya dengan pemilik massage, sampai sampai dirinya diminta membacakan doa agar usaha massage tersebut laris manis. Ustaz karim menyambutnya dengan senang hati, berdua dengan muridnya, akhirnya mengadakan wirid sekaligus yasinan bersama para penghuni yang ada disana. Selepas beberapa minggu kemudian, bukannya banyak pengunjung yang datang, justru massage tersebut tutup total karena tidak ada pelanggan yang datang."Mereka berpikir kami doakan agar laris, justru sengaja kami doakan agar tutup maksiat ditempat itu", Kenang Ustaz Karim sembari tertawa kecil.
Ketika kami tanyakkan tentang pandangan orang dengan cara dakwah yang dilakukan seperti berada di tempat yang taklazim ustaz berada, ustaz Karim menjawab jika dirinya tidak membutuhkan penilaian manusia, tidak membutuhkan pujian dan makian orang, "apa yang saya lakukan cukup Allah saja yang tau", ungkapnya dengan santai
Mengenai kebiasaannya ngeluyur ketempat hiburan malam, Zulkarnain juga mengaku jika pernah ikut mendampingi sang guru Abdul Karim. Dihadapan Zulkarnain sendiri sang ustas justru menikahkan wanita pekerja seks komersial dengan teman kencannya yang berprofesi sebagai tukang ojek di Nagoya.
Begitulah ustaz Karim dalam berdakwah, tidak mengenal waktu dan tempat, selama ada peluang menyadarkan orang kepada kebenaran, dirinya tidak pernah lelah sedikitpun apalagi harus mengeluh kepada manusia.Baginya, lebih menentramkan hatinya jika bergaul dengan orang-orang kecil lagi miskin daripada berbaur dengan penguasa yang kaya. Sosoknya yang tegas terhadap kemungkaran membuatnya disegani banyak orang. Apalagi pengalamannya berdakwah berkeliling kota di Indonesia ditambah lagi kemampuannya yang bisa merukyah orang yang sedang gangguan jin dan sejenisnya. (Awl)